Misteri Pedang
Nogo Sosro
By : Ary Rafianto
Ini adalah pengalaman pribadiku ,
saat itu kira-kira pukul dua belas malam seperti biasa aku masih belum bisa
memejamkan mata , untunglah masih ada seorang teman yang belum tidur , lumayan
ada teman pikirku .
Sesaat kami berbincang seperlunya
dan selanjutnya sepi dan heningnya malamlah yang mendominasi keaadaaan , Dalam
suasana sepi itulah tiba-tiba kudengar dengan jelas suara tanpa rupa yang
menyuruh aku untuk berjalan keluar dari serambi masjid .
“ Keluarlah dan turutkan langkah
kakimu disana telah menanti dirimu sebuah pedang dan batu mustika ( Nogo sosro
dan Mirah delima ) “.
Dalam hati aku berfikir suara siapa
ini , dan yang pernah kudengar bukanlah pedang tetapi keris yang bernama Nogo
sosro , diliputi rasa penasaran aku meminta ijin pada temanku untuk keluar
sebentar , tetapi temanku bilang bahwa dia tidak berani kutinggal sendirian ,
dan akhirnya kami berduapun melangkah meninggalkan serambi masjid , tanpa
temanku tahu alasannya diapun mengikutiku .
Setapak demi setapak kami berdua
berjalan kaki , yaaa hanya menuruti kemana kaki ini melangkah membawa kami .
Kalau diukur dengan waktu normal
seharusnya dalam tempo tidak lebih dari satu jam perjalanan kami sampai
ditujuan , tetapi waktu itu benar-benar aneh jarak sedekat itu kami tempuh
dengan waktu kurang lebih tiga jam berjalan kaki .
Berat sekali kaki tuk melangkah
dan hawa dingin menusuk tak seperti biasanya , sampailah kami melintasi
pinggiran rel kereta api dan dari sinilah awal keanehan itu terjadi .
Dengan sangat jelas sekali dan
sesadar-sadarnya aku melihat seseorang yang mirip sekali denganku keluar dari
dalam tubuhku , dia menunjukkan kepadaku kearah sebuah pedang berwarna perak yang
melayang dan berdiri tegak diudara tanpa menyentuh apapun , dengan posisi gagang berada diatas berbentuk
kepala Naga bermata merah .
Inikah pedang Nogo Sosro dalam hati
aku berkata , dan langsung dijawab iya oleh seseorang yang mirip diriku
tersebut , entah mengapa iya seakan tahu dengan yang aku katakan meskipun aku
berkata hanya dalam hati . Dalam keadaan seperti ini aku dan temanku seakan
bergantian menghilang , karena setiap aku bisa melihat temanku pertanyaan kami
sama persis “ Kamu dari mana “ dan jawaban kami juga sama “ Dari tadi aku masih
disini gak kemana-mana “.
Sesaat setelah pedang Nogo Sosro
berdiri tegak di angkasa kulihat jelas seseorang menghampirinya sambil membawa
sarung pedang tersebut , sama orang itu juga melayang di udara , inikah jin
pikirku dalam hati .
Dia menatap tenang kearahku , memanggilku
dan memberikan pedang Nogo Sosro tersebut kepadaku untuk ku pegang , sesaat
setelah aku memegang pedang itu kembali keanehan terjadi ,temanku
memanggil-manggil aku karena dia tidak melihatku padahal aku masih berdiri
disampingnya , Yaaaa Tuhan ini sebagian kebesaranmu kau cipta dimensi lain dan
takkan pernah bersinggungan kecuali atas ijinmu .
Dia ( penjaga pedang Nogo sosro )
pun berkata “ berikan kembali pedang itu ku tunggu kau disana sambil menunjuk
kesebuah arah yaitu sebuah gedung sekolah menengah pertama “.
Aku meminta ijin untuk meneruskan
perjalananku sendiri pada temanku , tetapi sekali lagi dia berkata lebih baik
perjalanan diteruskan berdua . Akhirnya kami menuju tempat dimana penjaga pedang
Nogo sosro itu menunjukkan arah , meski dalam hati aku sedikit bingung karena
sang penjaga pedang tersebut telah berpesan bahwa aku harus kesana sendiri .
Dan benar penjaga pedang itu
telah menungguku disana , dia menuju kearahku berjalan tanpa menyentuh tanah ,
dan ketika dia melihatku berdua bersama temanku diapun menghentikan langkahnya
.
Kuberanikan diriku untuk maju
menghampirinya , kukatakan bahwa kami tidak bisa berpisah jalan karena dari
awal kami berangkat bersama , dan dengan tenang pula dia menjawab “ tidak
apa-apa tetapi ingatlah , jangan sekali-kali kamu mengambil mustika batu mirah
delima tanpa kamu membawa pedang ini , dan karena kamu membawa serta temanmu maka
aku tidak bisa memberikan pedang ini padamu , mirah delima akan turun dari
langit disana sambil menunjuk ke suatu arah “.
Aku dan temanku meneruskan
perjalanan setelah kami berpamitan , dan benar sekali apa yang dikatakan oleh
sang penjaga pedang tersebut , kutengadahkan wajahku menatap langit kuamati
perubahannya , nampak semakin lama semakin semakin memerah padahal cuaca waktu
itu kemarau dan hawa yang sangat dinginpun kembali terasa .
Dalam perjalanan pulang sampailah
kami pada sebuah perempatan jalan , seberkas cahaya turun dari angkasa dengan
cepatnya dan dalam sekejap terdengar suara benda terjatuh , dari kejauhan
tampak cahaya berpendar kuberkata dalam hati inikah batu mustika itu inikah
Mirah delima , kami dekati batu mustika itu dan hanya melihat yang kami lakukan
karena ketika kami mendekat terdengarlah dengan jelas sebuah suara tanpa rupa ,
kali ini suara seorang perempuan “ ingatlah jangan kamu lupa bahwa tanpa pedang
Nogo Sosro janganlah kau ambil batu Mustika Mirah Delima ini “. Kami lanjutkan
perjalanan kembali ke masjid sesampai dimasjid kulihat jam tepat menunjukkan
pukul setengah empat pagi , sudah hampir waktu subuh .
Dalam hati aku bersyukur bahwa Tuhan
telah menunjukkan kuasanya padaku , Dia telah memberiku kesempatan untuk
mengetahui makhluk dan dimensi yang lain yang telah Dia cipta , terima kasih
Tuhan . Terima kasih atas rahmat yang telah engkau berikan padaku ,
Amiiiiiiiiinnnnn
Oh ya kepada para agan yang
membaca kisah nyata ku ini , kejadian tersebut letak lokasinya berawal di
sebuah masjid didaerah margorejo Surabaya sampai
di wonocolo Surabaya
.
Mohon maaf apabila tulisannya kurang menarik untuk dibaca , maklum masih amatir .
Bagi agan yang ingin copas monggo dan tolong sumbernya disertakan , makasih